Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan dan Fungsi Utama UPS dan Stabilizer

Perbedaan dan Fungsi Utama UPS dan Stabilizer

Para pengguna komputer desktop tentunya familier dengan stabilizer atau yang biasa disebut stavolt serta Uninterruptible Power Supply (UPS). Kedua perangkat ini biasanya dipakai dengan tujuan untuk melindungi komputer. Meski sudah umum digunakan, sebagian besar orang tidak mengetahui perbedaan UPS dan stabilizer. Padahal, kedua perangkat ini memiliki fungsinya masing-masing.

Keduanya memang sama-sama memiliki fungsi sebagai pelindung peralatan elektronik. Hanya saja, cara kerja serta upaya perlindungan yang dilakukan oleh keduanya, punya perbedaan mencolok. Biar tidak salah pilih, Anda perlu mengetahui perbedaan UPS dan stabilizer. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa rugi saat membelinya.

PERBEDAAN UPS DAN STABILIZER

Perbedaan mencolok antara UPS dan stabilizer bisa Anda ketahui dengan melihat fungsi dari keduanya. Stabilizer merupakan perangkat elektronik yang bertujuan untuk menjaga tegangan tetap stabil tanpa disertai fluktuasi. Anda perlu tahu bahwa tenaga listrik yang berasal dari PLN memiliki fluktuasi tegangan yang cukup tinggi.

Fluktuasi tegangan listrik memang tidak terjadi dalam waktu panjang, biasanya hanya berlangsung pada hitungan milidetik. Namun, kalau kondisi ini berlangsung secara terus-menerus, berpotensi membuat peralatan listrik di rumah, seperti komputer, televisi, dan semacamnya mengalami kerusakan. Fluktuasi bisa Anda ketahui ketika nyala lampu terlihat berkedip.

Sementara itu, UPS tidak memiliki kemampuan untuk menstabilkan tegangan listrik dari PLN. Sebagai gantinya, UPS memiliki fungsi utama sebagai power backup. Penggunaan UPS sangat krusial ketika Anda berada di lingkungan yang sering mengalami gangguan jaringan listrik, khususnya pemadaman listrik yang terjadi secara tiba-tiba.

Ketika terjadi gangguan listrik, peralatan elektronik yang terhubung dengan UPS tidak akan langsung padam. UPS akan menyediakan pasokan tenaga listrik cadangan yang biasanya bertahan dalam waktu singkat, sekitar 10-15 menit. Penggunaan UPS pada komputer, memungkinkan Anda untuk bisa mematikan PC secara normal.

Selain menyediakan pasokan energi listrik cadangan, UPS juga memiliki fungsi lain. Fungsi lain inilah yang membuat perbedaan UPS dan stabilizer jadi tidak terlalu signifikan. Kegunaan lain dari UPS adalah kemampuannya dalam menstabilkan tenaga listrik. Hanya saja, kemampuan UPS dalam menjaga stabilitas pasokan listrik tidak lebih baik kalau dibandingkan stabilizer.

PENTINGNYA MENGGUNAKAN SUPLAI LISTRIK YANG STABIL DAN TANPA GANGGUAN

Memastikan bahwa pasokan listrik untuk berbagai peralatan elektronik terjaga secara stabil dan tanpa gangguan merupakan hal penting. Dengan melakukan hal ini, usia pemakaian perangkat elektronik bisa jauh lebih lama. Di samping itu, Anda juga tidak akan mengalami gangguan dalam berbagai jenis tugas yang perlu diselesaikan.

Fluktuasi tegangan listrik yang terjadi di rumah bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

1. Koneksi listrik yang buruk

Fluktuasi aliran listrik bisa terjadi ketika terdapat koneksi yang buruk. Kualitas koneksi yang buruk bisa terjadi di mana saja, baik di rumah atau jaringan transmisi listrik milik PLN. Di samping itu, permasalahan pada kabel juga bisa membuat terjadinya fluktuasi listrik.

Gangguan berupa fluktuasi yang ditimbulkan oleh sistem transmisi dari PLN tidak bisa dicegah. Sementara itu, fluktuasi yang disebabkan karena kualitas koneksi serta kabel, bisa dihindari dengan memelihara jaringan listrik di rumah dengan baik. Pastikan bahwa kabel serta sambungan masih bagus dan layak digunakan.

2. Interferensi

Penggunaan beberapa perangkat elektronik pada satu jaringan listrik juga bisa mengakibatkan fluktuasi. Pada kondisi ini, terjadi fenomena yang bernama interferensi. Tandanya, lampu yang terhubung pada jaringan yang sama, bakal terlihat berkedap-kedip.

Untuk menghindari terjadinya fluktuasi karena interferensi, pastikan untuk memisahkan pemakaian jaringan listrik. Untuk peralatan elektronik yang sensitif seperti komputer, usahakan untuk menggunakan outlet listrik secara tersendiri. Dengan begitu, suplai listrik ke komputer, bebas dari interferensi.

3. Fenomena alam

Selain itu, fluktuasi aliran listrik juga bisa terjadi karena disebabkan oleh fenomena alam. Contoh fenomena alam yang bisa menimbulkan fluktuasi di antaranya adalah sengatan halilintar, burung yang hinggap pada kabel listrik, atau pohon tumbang.

Pada berbagai jenis perangkat elektronik, fluktuasi mungkin tidak terlalu menimbulkan permasalahan. Dampaknya hanya bisa diketahui dalam jangka panjang. Namun, untuk peralatan elektronik yang sensitif seperti komputer, peralatan laboratorium, dan sebagainya, bisa menimbulkan kerusakan dalam jangka pendek.

Selain fluktuasi listrik, gangguan yang perlu dihindari adalah pemadaman. Listrik yang padam secara tiba-tiba bisa terjadi karena terdapat permasalahan pada sistem distribusi PLN. Sebagai contoh, Anda akan sering menemukan pemadaman listrik ketika musim hujan yang disebabkan karena pohon tumbang.

Pemadaman listrik yang tiba-tiba juga bisa terjadi ketika jaringan di dalam rumah mengalami hubungan pendek atau korsleting. Kondisi ini tidak hanya bisa memperpendek usia peralatan elektronik, tetapi juga sangat menyusahkan.

Sebagai contoh, ketika Anda tengah mengerjakan sebuah tugas di komputer dan tiba-tiba listrik padam. Di sisi lain, pekerjaan tersebut belum disimpan dan sudah mencapai tahap akhir. Sangat menjengkelkan, bukan?

Untuk permasalahan listrik yang sering padam, Anda tidak hanya perlu menempatkan stabilizer pada perangkat komputer. Di waktu yang sama, Anda juga harus menggunakan UPS sebagai penyedia suplai listrik cadangan. Untuk perusahaan besar, bisa pula memilih menggunakan UPS yang disertai dengan fitur stabilizer.

UPS YANG SEKALIGUS BERFUNGSI SEBAGAI STABILIZER

Di pasaran, Anda bisa menjumpai berbagai jenis UPS yang menawarkan fitur sekaligus sebagai stabilizer. Hanya saja, Anda juga perlu tahu bahwa kemampuan sebuah UPS dalam menstabilkan aliran listrik dari PLN, disesuaikan dengan tipenya. Ada 3 tipe UPS yang sering digunakan, yaitu:

1. Standby UPS

Jenis UPS yang satu ini merupakan tipe yang paling murah. Fungsinya cukup sederhana, yakni sebagai penyedia cadangan listrik ketika dibutuhkan. Ketika listrik dalam kondisi normal, pasokan listrik yang dialirkan dari UPS tidak melalui inverter. UPS jenis ini biasa digunakan pada berbagai produk elektronik rumahan, seperti komputer personal, modem, ataupun peralatan VoIP.

2. On-line UPS

UPS model on-line merupakan perangkat yang disertai dengan fitur double conversion. Listrik dari PLN yang melalui on-line UPS akan diubah menjadi listrik DC dan kemudin disalurkan ke baterai. Dari baterai, listrik DC diubah kembali menjadi AC dan bisa digunakan untuk menyuplai kebutuhan tenaga listrik berbagai perangkat.

Karena di dalamnya terjadi konversi listrik, tidak heran kalau on-line UPS menjanjikan suplai tenaga listrik yang stabil. Dengan fungsinya menyalurkan listrik yang stabil, hampir tidak ada perbedaan UPS dan stabilizer pada model perangkat power backup yang satu ini. Hanya saja, perangkat ini memiliki harga jauh lebih mahal dibanding standby UPS.

3. Line-interactive UPS

Selanjutnya, ada tipe line-interactive UPS. Jenis UPS yang satu ini mampu memberikan suplai tenaga listrik stabil layaknya stabilizer untuk perangkat elektronik. UPS tipe yang satu ini didesain mampu merespons ketika suplai listrik dari PLN tiba-tiba mengalami kenaikan atau penurunan.

PENUTUP

Demikianlah informasi terkait perbedaan UPS dan stabilizer yang bisa Anda ketahui. Dengan berbekal pengetahuan ini, Anda bisa menggunakan perangkat yang tepat dan sesuai dengan permasalahan yang tengah dihadapi. Semoga bermanfaat, ya.